.

.

Cetak mubaligh Handal, IKADI Gelar Pelatihan Mubaligh

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 19 Mei 2016

Indahnya Persaudaraan

Ceramah Ustad Ghusni Darodjatun - Indahnya Persaudaraan
Tauziyah Subuh di Masjid Baiturrahim Kejambon-Tegal-Jateng, 15 Mei 2016

 

Senin, 16 Mei 2016

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

 
Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
______________________
@dwiboediyanto
Kabid. Pelatihan dan Dakwah PW IKADI Yogyakarta
 
 
Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saat dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
 
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
 
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.
 
Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
 
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
 
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
 
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.
 
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
 
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan *‘resign’* tanpa pamitan.
 
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir ( driver ) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.
 
Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
 
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
 
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
 
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
 
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
 
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin.

Minggu, 15 Mei 2016

Malam Bina Iman dan Taqwa- MABIT IKADI 14 mei 2016


Tegal, 14 mei 2016
Ikadi Kota Tegal kembali lagi mewarnai malam-malam menjelang datangnya bulan suci yang dinantikan ummat muslim sedunia menghadirkan kegiatan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) yang pada kali ini menghadirkan pembicara H Ahmad Fathoni Lc, Dipl M.Pd.I  ,dengan   tema Agar Sholat Kita Tidak Sia Sia.
Kegiatan yang rutin diadakan oleh IKADI ini bertempat di Masjid Daarul Ilmi ( SMK Al Irsyad Kota Tegal) diikuti oleh sedikitnya 50 peserta mabit yang asyik menikmati kajian ini.

Bagi siapa saja yang berminat untuk file presentasi dari pembicara silahkan download disini

Minggu, 08 Mei 2016

Cetak mubaligh Handal, IKADI Gelar Pelatihan Mubaligh


Pembukaan oleh KaKankemenag Kota Tegal H Nuril Anwar SH MH
Tegal- Perwakilan Daerah Ikatan Da’i Indonesia (PD IKADI) Kota Tegal mengadakan pelatihan mubaligh Angkatan I yang diadakan hari Ahad 1 Mei 2016, mengusung tema “Memantaskan Diri Menjadi Dai yang Dicintai Allah”. Tercatat sekitar 25 orang peserta memadati aula BMT BUM Kota Tegal.

Acara tersebut di mulai pukul 08.30 dibuka oleh Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tegal, H. Nuril Anwar, SH. MH, dalam sambutannya beliau sangat mendukung kegiatan PD IKADI Kota Tegal dalam programnya mencetak mubaligh yang berkualitas, kemudian sambutan dari Ketua Panitia, Kabid Pendidikan dan Pelatihan IKADI Kota Tegal H.Amin Aziz , M.Pd.  


Materi pertama disampaikan Ust. H.Ghusni Darodjatun, M.Pd selaku ketua PD Ikadi Kota Tegal membahas teknik penyampaian dan tata cara khotbah jumat. Sedangkan materi kedua training public speaking, dibawakan oleh Kak Tedi Kartino, S.P seorang trainer dari AB.Co dan seorang pendongeng nasional.

 Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti  teknik khotbah yang terangkum dalam kalimat “POWER”. Terlebih acara tersebut dibawakan dengan sangat menarik ditambah lagi dengan trik – trik yang atraktif yang disajikan oleh pemateri dalam menciptakan fokus sebuah majelis.
Diakhir training, para peserta diminta untuk mempraktekan materi yang didapat dengan langsung berceramah, 3 peserta pilihan dari 3 kelompok besar berceramah di depan seluruh peserta.
Acara pelatihan yang bekerjasama dengan LAZIS Al Ihsan ini berlangsung  selama 4 jam, ditutup dengan rekomendasi kepada para peserta untuk mempraktekkan ilmu yang didapatnya, sehingga dakwah dapat tersampaikan ke seluruh kalangan dengan cara yang menarik.